Proaktiv dan Enterpeneurial Kampus

image

Proactive dan Entrepreneurial Campus Dalam Mengelola Perguruan Tinggi di Era Perubahan

 

                                         Oleh : Eki  Baihaki*

 

 Kehabisan tenaga mengancam kehidupan bangsa dan tiap

            warganya: ia adalah kesakitan selagi mengantuk,

                                                     kematian selagi tidur

                                                               (Kahlil Gibran)

 

          S ejak dahulu manusia dihadapkan pada perubahan sebagai suatu kenyataan yang tak terelakan. Bahkan Heraclitus pada tahun 513 sebelum masehi, menyatakan bahwa “tidak ada sesuatu yang permanen kecuali perubahan” termasuk perubahan yang harus dilakukan di dunia pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi hingga saat ini pada umumnya masih menerapkan tradisional view  sebagaimana ungkapan Lord Dahrendorf (1995), yang memimpin perguruan tinggi bergengsi The London Scool of Economic and Political Science, yang mengatakan “Sebuah universitas tak perlu dan tak ingin dikelola, ia akan berjalan sendiri mengikuti irama “internal channel”   misterius. Mereka umumnya percaya akan adanya “the invisible hand” yang akan menata dirinya sendiri dengan baik.           

Pandangan tersebut, sampai saat masih dominan mewarnai para pengelola pendidikan tinggi, hingga dunia berubah menjadi kompetitif dan dinamis maka cara-cara pengelolaan tradisionil, sesungguhnya sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan jaman. Perguruan Tinggi yang dikelola dengan cara tradisionil akan berhadapan dengan perguruan tinggi baru yang dinilai lebih “seksi” dan menawan, karena kekuatannya pada teknologi informasi, kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan jaman, metode pembelajarannya, fasilitas yang unggul dan program internasionalnya. Maka untuk menjawab tantangan turbulensi perubahan jaman, perguruan tinggi perlu melakukan perubahan-perubahan mendasar pada berbagai aspeknya. Karena setiap organisasi memiliki siklus hidup, maka perguruan tinggi sebagai organisme hidup akan menghadapi hukum besi sejarah, memilih berubah atau tenggelam, atau terjebak kondisi status quo, hidup enggan matipun tak mau.

          Sehingga banyak perubahan besar, yang semestinya lahir dari rahim perguruan tinggi, tetapi banyak lahir dari kalangan wirausaha, seperti metode pembelajaran “Quantum Learning ” yang digunakan oleh pelajar hingga program doctoral dengan hasil yang mencengangkan. Kelahirannya dipelopori oleh Bobbi DePorter, yang bukan profesor pendidikan, tapi seorang agen Stone Real Estate di Sanfransisco.  Hal yang serupa juga pada ESQ , yang kini menjadi icon paradigma baru dalam menjalani kehidupan yang penuh turbulensi   bagi para professional dan next generation dan mulai jadi acuan para pendidik di negri ini. Lahir dari praktisi pebisnis tulen, yaitu Ary Ginanjar Agustian, yang bukan dari dunia pesantren,bukan dosen agama atau teologi,  tapi lulusan NHI Bandung. Hal tersebut menunjukan bahwa perguruan tinggi sebagai pusat persemaian ilmu mulai kurang inovatif dan responsif terhadap dinamika kehidupan.     

Belajar dari Kasus Beaver College

          Rhenald Kasali, dengan mengambil contoh kasus tentang pembaruan Universitas yang diambil dari buku karangan David L. Krip, (2003), yang berjudul Shakespeare, Einstein, and Bottom Line The Marketing of High Education .  Alkisah pada tahun 1970-an para pimpinan di Beaver College dikejutkan oleh data yang menunjukan adanya penurunan minat di kampus yang mereka kelola. Jumlah pendaftar yang semakin berkurang, yang bukan disebabkan oleh krisis ekonomi, karena kampus lainnya mengalami peristiwa yang berbeda. Beaver College yang dikenal sebagai kampus perempuan citranya terus merosot. Ia juga terkenal sebagai kampus tua yang terlalu serius, bukan cuma pendaftar yang berkurang, endowment fund , atau sumbangan dari masyarakat juga makin hari makin merosot.

          Menyadari persolan ini, pada tahun 1972, Beaver College yang didirikan tahun 1853, mulai mereposisi banyak hal, termasuk membuka segmen mahasiswanya yang terbuka untuk laki-laki. Beaver College juga membuka program studi baru, yang diminati pasar. Reposisi lainnya pun dilakukan sebagaimana tabel dibawah ini, hingga perlahan tapi pasti berhasil keluar dari keterpurukan.

 

Tabel Perubahan Beaver College

 

No

Reposisi

Beaver College

(Kampus Lama)

Kampus Baru

(Arcadia University)

 

1.

 

 

2.

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

4.

 

 

5.

 

 

6.

 

7.

 

8.

 

Sasaran Pasar

 

 

Citra

 

 

 

 

 

Penyampaian

 

 

 

Gedung

 

 

Pengajar

 

 

Pendekatan

 

Suasana

 

Komunikasi 

 

 

Jender (perempuan)

 

 

Tua, serius, berat, tidak ada kehidupan

 

 

 

 

Serius, Classical

 

 

 

Tua, kusam, besar, ornamental


Fri, 9 Oct 2020 @09:14


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 ekibaihaki · All Rights Reserved