Polisi Yang Dipercaya Masyarakat

image

 

Menjadi Polisi yang Dipercaya Masyarakat

Oleh Eki Baihaki

Polisi yang dipercaya adalah visi dan komitmen kuat Kapolda Jabar Irjen Polisi Susno Duadji kepada jajarannya. Namun, realitasnya tidak semudah yang diucapkan. Meski eksistensi dari institusi kepolisian sudah memasuki usianya yang ke-62, beragam masalah menghadang di tengah panasnya politik nasional. Berkembangnya berbagai bentuk pembangkangan sosial bahkan perlawanan terhadap aparat hukum, sebagai ekses dari lunturnya kepercayaan terhadap kerja sistem hukum dan tentu Polri di dalamnya.

Di tengah tantangan tugas yang semakin kompleks, mewujudkan partisipasi masyarakat dalam bidang kamtibmas adalah langkah solutif di tengah kondisi bangsa yang memprihatinkan dalam berbagai aspek. Partisipasi masyarakat diperlukan mengingat employee rate Polri saat ini jauh dari kondisi ideal yaitu sekitar 1: 1.500, sedangkan kondisi ideal menurut UNDP adalah 1 : 400. Maka kunci sukses upaya mewujudkan partisipasi masyarakat terutama sense of participation hanya dapat diwujudkan bila mitra untuk partisipasi ini, khususnya polisi sudah "bisa dipercaya" (trustable), kredibilitasnya terjaga, dan profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Polisi yang dipercaya adalah tangga awal untuk merebut hati masyarakat. Hubungan antara polisi dan masyarakat sering diibaratkan sebagai ikan dan air. Ikan jelas tidak bisa hidup tanpa air, demikian pula polisi tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa dukungan masyarakat. Dengan demikian, memperoleh dukungan yang ikhlas dari masyarakat menjadi sangat penting untuk kelancaran tugas, sesuai dengan yang diamanatkan doktrin polisi mutakhir shaking hands with the entire community (Satjipto Rahardjo, 1999) bergandengan tangan dengan seluruh komponen strategis masyarakatâ.

Hati masyarakat hanya bisa direngkuh jika Polisi memahami karakter masyarakat, menaruh simpati dan empati yang tinggi terhadap penderitaan masyarakat, serta betul-betul menempatkan diri sebagai pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi ada untuk menjaga keamanan masyarakat secara umum.

Di tengah-tengah hubungan polisi masyarakat yang fluktuatif, terkadang membara, ada baiknya kita mengenang almarhum Kapolri Jenderal Hoegeng Imam Santoso, yang memaknai jati dirinya sebagai polisi dan perannya di tengah masyarakat. Hoegeng memaknai seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal polisi. Tentu saja yang terakhir memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar. "Hakikat seorang polisi demikianlah, yang membuat saya mencintai tugas kepolisian dan bangga sebagai polisi, tanpa membedakan kedudukan dan pangkat!"

Hoegeng membuktikannya dengan tidak pernah merasa malu turun tangan mengambil alih tugas teknis seorang agen polisi yang kebetulan sedang tidak ada atau tidak di tempat. Misalnya jika di suatu perempatan jalan terjadi kemacetan lalu lintas, kadang kala dengan baju dinas kapolri, beliau menjalankan tugas seorang polisi lalu lintas di jalan raya. "Saya melakukan dengan ikhlas. Sekaligus memberikan contoh teladan tentang motivasi dan kecintaan polisi akan tugasnya, sekaligus memberikan teguran dan peringatan secara halus kepada bawahan yang lalai atau malas!"

Dalam persepsinya tentang kehormatan, kewajiban, dan tanggung jawab polisi, maka keinginannya yang pertama adalah memulai menegakkan citra ideal seorang polisi dari diri sendiri. Berbarengan dengan itu menaikkan pula citra seorang komandan polisi yang baik.

**

Pascareformasi, di tubuh Kepolisian Republik Indonesia sudah mulai tumbuh kesadaran akan pentingnya membangun hubungan yang terbaik dengan masyarakat, komitmen untuk mentransformasi identitas diri, dan upaya membangun citra polisi yang lebih baik. Dari yang semula cenderung sebagai pemburu kriminal, lebih ke konsep diri selaku pengayom, pelindung, dan pelayan masyarakat.

Dalam pandangan Betz, sesungguhnya hanya sekitar 10 persen dari seluruh pelaksanaan tugas kepolisian yang berkaitan dengan penegakan hukum, sedangkan 90 persen lainnya adalah digunakan oleh polisi untuk melayani masyarakat. Berdasarkan pandangan tersebut maka keberhasilan tugas kepolisian sesungguhnya sangat bergantung pada kemampuan polisi dalam membina hubungan yang baik dengan masyarakat. Idealnya polisi mampu menampilkan diri sebagai seorang komunikator, setidaknya memahami dasar-dasar komunikasi yang efektif, ketika berhubungan dengan masyarakat.

Studi Peter Ainsworth (1993) terhadap polisi Inggris yang menyatakan bahwa kunci keberhasilan mereka dalam bertugas adalah selera humor, keterampilan komunikasi, kemampuan adaptasi, logika awam, asertivitas, sensitivitas, toleransi, integritas, kemampuan baca tulis, kejujuran, dan kecekatan memecahkan masalah.

Hasil studi Ainsworth tersebut kemudian memberi dasar bagi perlunya kurikulum berbasis komunikasi dalam pendidikan kepolisian.Keterampilan berkomunikasi merupakan salah satu faktor penting di balik suksesnya kerja polisi Inggris dalam membangun hubungan dengan masyarakat. Sekaligus mengindikasikan derajat kesantunan (civility) serta kepedulian polisi Inggris akan akuntabilitas publik.

Kesadaran (awareness) akan hubungan antarmanusia menjadi sesuatu yang penting. Bull dkk. (1985) membuktikan, aparat polisi yang memiliki kesadaran tinggi akan hal itu lebih mampu berinteraksi secara harmonis dengan publik. Keluhan masyarakat pun menurun. Manfaat susulannya adalah kualitas relasi polisi-masyarakat akan meningkat.

Terwujudnya rasa aman adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam upaya bangsa untuk bangkit dari krisis multidimensi yang kini sedang melanda.

Rasa aman di masyarakat merupakan prasyarat bagi bergeraknya roda perekonomian nasional. Polisi yang profesional harus mampu mengupayakan terbentuknya rasa aman, dengan sejauh mungkin mencegah terjadinya pungutan liar, perampokan, penjarahan, pencurian, dan ketidaktertiban sosial lainnya. Pada tingkat yang lebih ideal, polisi harus mampu mengidentifikasi dan menumpas kemungkinan terjadinya kejahatan, justru ketika masih menjadi "faktor korelatif kriminogen" dengan tindakan yang bersifat preventif.

Tugas universal dan mulia seorang polisi adalah to protect and to serve, maka melindungi dan melayani masyarakat adalah core-business polisi, meminjam ungkapan pakar kepolisian, kewajiban mulia seorang polisi adalah menenteramkan siapa saja yang merasa ketakutan, memberi makan yang kelaparan, memberi baju yang masih telanjang, memayungi yang kehujanan, menunjuki yang kebingungan, mengingatkan yang lupa, dan memberi tahu yang belum tahu.

Dalam konteks Jawa Barat, beragam persepsi dan pandangan masyarakat Jawa Barat terhadap jajaran kepolisian di bawah kepemimpinan Irjen Pol. Susno Duadji, ada yang optimistis, biasa biasa saja, dan pesimistis, mengingat persepsi dan pengalaman yang dialami masyarakat ketika berinteraksi dengan polisi. Saat ini secara umum mulai tumbuh pandangan yang positif dan optimistis masyarakat terhadap kepemimpinan Susno Duadji sebagai kapolda, sebagaimana yang dikonstruksi oleh masyarakat melalui media cetak dan elektronik.

Ikhtiar Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji yang telah berusaha menyemai tumbuhnya fondasi kepercayaan dan harapan masyarakat Jawa Barat terhadap jajaran kepolisian, harus kita sambut dan terus-menerus ditumbuhsuburkan hingga terwujud kemitraan yang ikhlas dan produktif dalam mewujudkan kondisi kamtibmas yang terbaik di jawa barat. Dirgahayu Polri!***

Penulis, dosen dan Ketua Pusat Studi Kemitraan Polisi dan Masyarakat FISIP Unla Bandung

Sumber : Surat Kabar Pikiran Rakyat, 30 Juni 2008

 

Sun, 15 Jan 2012 @14:11

Copyright © 2018 ekibaihaki · All Rights Reserved