Menimbang Wakil Rakyat

image

  MENIMBANG WAKIL RAKYAT

   

Oleh: Eki Baihaki

ADA pertanyaan besar yang muncul berkaitan dengan Pemilu Legislatif 2009 yang akan segera digelar, apakah perhelatan demokrasi tersebut mampu menghasilkan wakil rakyat, yang sesuai dengan harapan rakyat yang akan memberi kuasa kepadanya?

Kata wakil dalam frasa wakil presiden atau wakil direktur, menunjukkan makna posisi kelas dua, posisi yang lebih rendah dari presiden atau direktur. Sementara makna wakil dalam frasa wakil rakyat, realitasnya tidak bermakna posisi yang lebih rendah. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai frasa ini dengan empat pengertian, orang yang dikuasakan menggantikan orang lain; orang yang dipilih sebagai utusan negara, duta; orang yang menguruskan perdagangan untuk orang lain, agen; dan jabatan kedua setelah yang tersebut di depannya.

Secara politis dan yuridis, anggota DPR/DPRD adalah wakil rakyat, minimal rakyat yang ada di daerah pemilihannya. Namun, faktanya belum seluruh rakyat merasa diwakili kehendaknya dan memiliki optimisme, wakilnya di legislatif akan memperjuangkan harapan dan keinginannya.

Kesan rakyat terhadap wakilnya, masih banyak yang bernada minor, terkadang rakyat melihat wakilnya sebagai "komandan rakyat" yang siap berbeda bahkan membantah dengan kehendak orang yang memberi kuasa kepadanya. Padahal, sejatinya, yang namanya wakil, tidak lebih tinggi atau lebih kuasa dari orang yang memberi mandat atau kuasa kepadanya. Wakil rakyat harus selalu diingatkan akan fungsi dan peran asasinya sebagai "artikulator" pembawa aspirasi kehendak rakyat secara lebih realistis-bermakna.

Kita memerlukan seorang "wakil" rakyat yang memahami kehendak rakyat yang hakiki dan wajib memahami kondisi sebagian besar rakyat yang saat ini digambarkan sedang dijangkiti "penyakit qolbu (hati)". Sebagian rakyat saat ini bagaikan jangkrik-jangkrik yang sedang berkelahi, pukul-pukulan, bahkan tak sungkan-sungkan saling menghujat serta rakyat yang sedang mengalami kelelahan batin dalam menjalani kehidupan yang penuh cobaan dan beragam kesulitan.

Kehendak rakyat sesungguhnya sangatlah variatif dan cair yang merupakan refleksi dari pancaran rakyat banyak. Kehendak rakyat aktualisasinya dapat disuarakan tokoh masyarakat, public opinion melalui beragam saluran. Namun, kehendak rakyat sering juga tidak dapat teraktualisasi secara jelas, kepekaan memahami silents majority atau mayoritas massa yang diam dan malas untuk disuarakan secara nyata perlu dipahami wakil rakyat sehingga tidak terjebak bahwa suara segelintir dapat disimplifikasi dan disimpulkan sebagai suara rakyat banyak, hanya karena muncul di media atau karena ketokohannya. Sejatinya, wakil rakyat harus memiliki hubungan emosional yang baik dengan seluruh rakyatnya. Agar tidak salah merumuskan kehendak sebagian besar rakyat.

Keterikatan emosional wakil rakyat dengan rakyatnya, hanya dapat terjalin jika anggota dewan memiliki kemampuan dalam mengelola emosi dirinya dan emosi orang lain secara baik atau dikenal dengan emotional intelligence (EQ) sehingga wakil rakyat yang memiliki kecerdasan emosional akan memiliki kepekaan dalam merespons kehendak rakyat yang beragam. Kehendak rakyat yang sebenarnya hanya didapatkan jika wakil rakyat, sebagaimana kata Iwan Fals, seharusnya (mau) merakyat, tidak bersikap feodal yang bertentangan dengan sikap egalitarianisme, yang menganggap harus ada sekat hierarkis dalam kehidupan sosial.

Bahwa rakyat hormat pada orang yang stratifikasi sosialnya (dianggap tinggi) termasuk hal ini anggota dewan yang sudah dilabelkan terhormat adalah hal yang lumrah. Namun, yang tidak sah dalam sistem demokrasi adalah jika orang yang dianggap berada pada level yang lebih tinggi tidak mau hormat apalagi mau mendengar suara rakyat kecil, padahal suara itu boleh jadi mengandung kebenaran. Resonansi emosional antara rakyat dan wakil rakyat hanya dapat terjalin dengan baik dan alami jika wakil rakyat bersikap jujur dan tulus, di antaranya mampu melakukan apa yang dikatakan dan tidak mengatakan apa yang tidak dilakukan.

Hubungan emosional yang bermakna diperlukan bagi wakil rakyat dengan rakyatnya sehingga rakyat pemilihnya merasa nyaman dalam kondisi rakyat yang sebagian besar digambarkan dalam keadaan resah, dibuktikan dengan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa dan maraknya kasus bunuh diri berbagai lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang dewasa, dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Karena beragam motif, salah satunya kesulitan hidup yang dihadapi dan hilangnya harapan masa depan yang lebih baik. Mampukah para wakil rakyat yang terpilih nanti dalam Pemilu Legislatif 2009, memahami, menemani, dan mengartikulasikan keluh kesah rakyat sebagaimana janji-janji yang disampaikan pada saat kampanye? ***


Penulis: Dosen FISIP Unla, kandidat Doktor Ilmu Komunikasi Unpad.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jumat 3 April 2009

 

Sun, 15 Jan 2012 @19:47

Saran & komentar
ALBUM

Copyright © 2017 ekibaihaki · All Rights Reserved