Masa Depan Anak Kita

image

Masa Depan Anak Kita
Oleh EKI BAIHAKI

"Untuk melihat format masa depan, tidak perlu superkomputer untuk memproyeksikan masa depan kita, karena apa yang terjadi pada milenium yang akan datang dapat dengan mudah direfleksikan dari seberapa jauh perhatian kita pada anak-anak kita saat ini. "              (Kofi Annan)

MENJELANG hari anak nasional, kita dikejutkan berita tragis seorang anak bernama Asep Ridwan Saefulloh (11), yang diberitakan menjadi korban mutilasi kriminal psikopat. Sementara anak lainnya, Asep Ramdani (16) menjadi berita karena prestasi kemanusiaan dan kepemimpinannya yang diakui oleh lembaga internasional ("PR", 14/7-07).

Namun dalam perkembangan selanjutnya, bocah yang dikabarkan menjadi korban mutilasi, ditemukan secara tidak sengaja oleh Kamaludin (ayah tiri Asep Ridwan) dalam keadaan segar bugar. Asep ternyata dalam sekapan dan ancaman sindikat anak, untuk dipekerjakan sebagai pengamen dan pemulung. Dan Asep harus menyetor Rp 20.000,00/hari. Jika kurang dari target itu, Asep kena marah ("PR", 19/7-07).

Asep Ridwan dan Asep Ramdani, keduanya adalah anak-anak warga Kota Bandung yang ditakdirkan lahir dari keluarga yang kurang beruntung dari sisi ekonomi. Yang satu mengalami kemalangan dan yang satunya lagi mampu mengukir prestasi hidup secara bermakna, meski ada dalam kesulitan yang dihadapi.

Ridwan, merupakan salah satu gambaran nyata dari gambaran nyata yang lebih besar dari sebagian besar anak-anak Indonesia saat ini, yang sebagian nasibnya masih banyak yang kurang beruntung. Berdasarkan data yang dilansir Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus-kasus perlakuan salah (child abuse ) yang menimpa anak-anak tidak hanya terjadi di daerah perkotaan, banyak juga melanda daerah pedesaan. Berdasarkan data Plan Indonesia yang dikutip sebuah media cetak nasional, saat ini diperkirakan terjadi 871 kasus kekerasan terhadap anak.

Sedangkan dari pengaduan masyarakat melalui hotline services dan pemantauan Pusdatin Komnas PA terhadap 10 media cetak, selama tahun 2005 dilaporkan terjadi 736 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah itu, 327 kasus perlakuan salah secara seksual, 233 kasus perlakuan salah secara fisik, 176 kasus kekerasan psikis. Sedangkan jumlah kasus penelantaran anak sebanyak 130. Ironisnya, para pelaku child abuse ini, pada umumnya adalah orang yang dikenal anak, yaitu sebanyak 69 persen. Sedangkan yang tidak dikenal anak hanya 31 persen. (www.KPAI.com )

Sejalan dengan pandangan Kofi Annan, kita harus memberikan perhatian kita terhadap anak bagi masa depan yang lebih baik, sebagai pondasi kokohnya bangsa dan negara. Saat ini perhatian orang tua, lingkungan tempat anak berada, serta perlakuan salah (child abuse ) masih terjadi. Wajar kalau timbul pertanyaan reflektif, akankah anak-anak kita bangga terhadap orang tuanya dan bangga kepada bangsa dan negaranya?

Potret anak Indonesia

Asep Ridwan Saepulloh adalah seorang anak berwajah manis, warga Kiara Condong Kota Bandung, yang telah menjadi korban eksploitasi anak oleh sekelompok orang yang mengandalkan kehidupannya dengan cara-cara yang tidak terpuji. Hal tersebut menggambarkan kepada kita bahwa apa yang dialami anak-anak semacam Asep Ridwan yang sempat terjebak menjadi anak jalanan. Yang pasti terjadi bukan karena pilihan dan keinginannya.

Salah satunya adalah karena ruang publik di mana dia berada, seperti stasiun kereta, dan ruang milik masyarakat biasa ternyata tidak mampu memberi rasa aman, dan sangat mungkin orang disekitarnya membiarkan hal tersebut terjadi. Dalam konteks ini di manakah peran negara (utamanya pemerintah) yang semestinya mampu "melindungi segenap tumpah darah dan memajukan kesejahteraan umum"? Termasuk peran mewujudkan ruang publik yang aman, dalam melindungi anak-anak yang relatif lemah tak berdaya, terutama yang dikategorikan sebagai anak jalanan, atau terpaksa menjadi anak jalanan.

Perlindungan anak juga harus menjadi fokus perhatian kita semua untuk mewujudkannya, termasuk perlindungan anak-anak dari penyimpangan perilaku seksual. Karena anak yang menjadi korban penyimpangan seksual orang dewasa, selanjutnya potensial akan menjadi pelaku kriminal pelaku penyimpangan seksual ketika ia sudah dewasa.

Awang Ningsih 34 tahun, adalah ibu kandung Asep Ridwan. Sebelum Asep ditemukan dia sangat bersedih, karena tidak mampu memenuhi keinginan anaknya yang meminta sebuah sepatu bola dan keinginan mengaji di pesantren. Kini setelah Asep diketemukan, mampukah ia memenuhi hak anaknya, terutama hak pendidikannya, selain sebuah sepatu bola bagi keceriaannya?

Kalau saja ia tidak mampu, semestinya tidak hanya Ibu Awang Ningsih yang bersedih. Karena secara sistemik, ada pihak lain yang turut secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh bagi terwujudnya hak anak mendapatkan pendidikan yang memadai, secara moral mestinya turut bertanggung jawab. Namun permasalahan klasiknya, mampukah birokrat pendidikan dan penentu kebijakan pendidikan menjangkau segmen anak semacam Asep Ridwan. Selain mendapatkan sekolah, anak juga memerlukan pertolongan negara (khususnya aparat keamanan) untuk melindunginya, agar tidak terjerat kembali dari mafia anak-anak yang setiap saat mengintainya.

Sementara Asep Ramdhani, adalah potret dari anak Indonesia, yang memiliki prestasi dan potensi yang cemerlang di balik kekurangan yang ada. Meski untuk ikut ujian sekolah pun ia tidak bisa, karena tidak mampu bayar SPP dan DSP hingga rapornya juga ditahan. Asep Ramdani adalah seorang anak yang bercita-cita tinggi dan mulia, ingin membebaskan belenggu kerja yang menyita masa kanak-kanak teman sebayanya, dengan berperan aktif memasyarakatkan hak-hak anak. Dia menerima penghargaan Youth Leadership Award 2007 dari UNICEF, bahkan diberi kesempatan untuk menyampaikan penderitaan buruh anak di industri sepatu Cibaduyut kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada peringatan hari anak Indonesia 2007.

Anak-anak Indonesia seperti Asep Ramdani, yang mampu meng-aktualisasikan cita-cita hidupnya yang cemerlang, meski ada dalam keterbatasan sepertinya tidak banyak. Asep yang memiliki potensi besar, beruntung bertemu dan dibimbing oleh Yayasan Sidihikara, yang bekerja sama dengan International Labour Organization (ILO). Namun sesungguhnya potensi anak-anak Indonesia lainnya seperti Asep Ramdani, menurut hemat saya cukup banyak, kalau saja ada yang peduli untuk mengembangkan potensi kreatifnya dalam mengaktualisasikan jati dirinya yang terbaik.

Asep Ramdhani, saat ini telah membuktikan karya kemanusiaan yang ditujukan bagi kehidupan anak sebayanya, dan mendapatkan pengakuan badan dunia UNICEF. Kita berharap sesuai dengan profesi dan bidangnya masing-masing turut memberi dan mengasah Asep Ramdani lainnya yang ada di sekitar kita.

Potret suram lainya, sebagaimana yang diberitakan media massa, hingga saat ini masih berjuta-juta anak Indonesia yang belum mendapatkan akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, jumlah anak di bawah umur 14 tahun banyak yang harus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga (child labour ) sebagai dampak kondisi ekonomi yang belum stabil, tindak kekerasan terhadap anak serta perlakuan diskriminasi pada anak-anak masih terus terjadi.

Hingga tingkat kematian ibu melahirkan, bayi dan balita di Indonesia juga masih tergolong tinggi. Bahkan kasus bunuh diri di kalangan anak-anak juga meningkat, sejalan dengan hasil penelitian Ikatan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ), yang dirilis belum lama ini, bahwa 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi, dari skala rendah hingga berat tentu saja efek terbesar dari fenomena ini akan dialami oleh anak-anak kita secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor media juga telah menjadi penyumbang problema anak-anak. Media kita, khususnya elektronik, dari waktu ke waktu semakin vulgar menampilkan program-program yang tidak lagi mendidik moral anak-anak kita. Seperti survei yang dilakukan oleh lembaga Kritis Media untuk Anak (Kidia) (Kompas 23/5/05) bahwa 84 persen tayangan film kartun anak yang sebagian besar di antaranya tidak layak dikonsumsi anak usia sekolah telah mendominasi siaran televisi di Indonesia saat ini.

Agenda ke depan

Secara yuridis pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Asasi Anak yang ditandatangani tahun 1989, yang menegaskan bahwa pemerintah bertanggung jawab melindungi hak-hak anak baik pendidikan, kesehatan dan moralitas. Juga optional protocol UNICEF di bidang larangan jual beli anak, protitusi anak dan pornografi yang juga memberikan tambahan perlindungan hak anak. Dan regulasi nasional dengan adanya UU No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Semua itu adalah landasan hukum yang semestinya cukup untuk melindungi hak-hak anak-anak kita, kalau saja diterapkan secara sungguh-sungguh.

Dengan masih banyaknya gambaran suram terhadap anak-anak kita. Beranikah kita, para orang tua, para penentu kebijakan di eksekutif dan legislatif, aparat keamanan, para pendidik hingga presiden, bertanya kepada anak-anak Indonesia yang kurang beruntung, sudahkah mereka bangga sebagai anak Indonesia, yang semestinya sehat, cerdas, bahagia, bercita-cita tinggi dan berahlak mulia? Wallahualam bissawab.  

Penulis, dosen Universitas Langlangbuana, ayah dari dua anak

Sumber : Surat Kabar Pikiran Rakyat

 

Tue, 17 Jan 2012 @07:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Saran & komentar
ALBUM

Copyright © 2018 ekibaihaki · All Rights Reserved