Eksistensi dan Peran Strategi Pers Mahasiswa

image

Eksistensi   dan Peran Strategis   Pers Mahasiswa *

Oleh : Eki Baihaki **

 

Hendaklah ada di antara kamu sekelompok orang yang menyeru

  ke jalan pembebasan, menolak kepalsuan

  (QS All 'Imran [3]: 104)

 

Arnold P. Toynbee, dalam bukunya The History of Mankind, memaparkan hasil penelitiannya terhadap 26 peradaban, termasuk masyarakat yang selalu tertindas, salah satu hasil kajiannya, dikatakan  akan selalu saja ada sekelompok (kecil) pemimpin bangsa itu yang membimbing bangsanya dalam merespon tantangan yang ada dan mengatasinya. Alnold P. Toynbee menyebutnya The Creative Minorities,  menurut hemat saya salah satu The Creative Minorities   di Indonesia adalah mahasiswa, yang juga sering dikatakan sebagai elit  intelektual. Dan salah satu dari media perjuangan yang dilakukan para mahasiswa adalah melalui pers m ahasiswa.

P ers mahasiswa dan pers pada umumnya pada dasarnya tidak berbeda. Kalaupun berbeda karena sifat kemahasiswaannya yang tercermin dalam bidang redaksional dan struktur organisasnya. Di samping itu kondisi yang dihadapi oleh pers mahasiswa pada kenyataannya tidak berbeda dengan kondisi yang dihadapi oleh pers umum itu sendiri. Dan sejarah menunjukan Pers mahasiswa turut andil berperan aktif memberikan kontribusi yang berarti bagi dinamika sejarah bangsa Indonesia.

Pers mahasiswa adalah  aktivitas jurnalitik yang   dilandasi idealisme yang tinggi yang berani merefleksikan kenyataan yang hidup dalam masyarakat kampus maupun masyarakat di luar kampus. Pers mahasiswa sebagai pencerminan jiwa mahasiswa harus menjadi perintis dan pendorong dalam mewujudkan modernisasi negaranya. Di negara yang sudah maju pers mahasiswa merupakan “community paper” daripada masyarakat mahasiswa. Ia kurang ambil bagian akan persoalan-persoalan nasional negaranya. Tapi di Indonesia, dan juga negara yang baru, “new-born countries” , dimana jumlah kaum intelektualnya masih terbatas, pers kampus memiliki peran yang strategis.

Istilah pers kampus lahir ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Keputusan No. 028/U/1974 pada tanggal 3 Pebruari 1974, satu point diantaranya berbunyi :“Pers mahasiswa dibina dan dikembangkan sebagai media tukar menukar informasi dan pengalaman antar civitas akademik perguruan tinggi yang bersangkutan dalam hubungan dengan peningkatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi”

Di era orde baru, ternyata kehidupan pers mahasiswa kurang mampu berperan. Banyak kalangan menilai pers mahasiswa telah “mati” alias “sepi”. Konon ini karena kondisinya yang tak mendukung, sehingga berimplikasi pada kemandulan daya nalar dan kritisme mahasiswa terhadap lingkungan, gejala sosial dan beragam masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa.

          Pers mahasiswa dalam eksisitensinya memiliki tantangan yang cukup berat. Sebab selain mempunyai kewajiban memberi informasi dan opini yang benar serta aktual, pers mahasiswa juga mesti mampu menembus ruang ketidak pedulian mahasiswa sebagai calon pembacanya, dalam iklim budaya baca dan menulis yang masih rendah.

Tak ada yang dapat menyangkal bahwa media massa telah membangun sebuah kesadaran kolektif rakyat untuk mensikapi realitas politik yang sedang berkembang. Di era pasca Soeharto, posisi dan kinerja media massa, terutama media cetak, mulai menemukan ruang kebebasan yang relatif lebih terbuka. 

Pada tanggal 21 Mei 1998 telah terjadi perubahan sosial politik yang cukup mendasar dalam kehidupan bangsa Indonesia. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia bersamaan dengan tuntutan perbaikan di berbagai bidang telah memaksa presiden Soeharto turun sebelum habis masa jabatannya. Era yang kerap disebut sebagai era reformasi membawa angin segar bagi kehidupan demokrasi di Indonesia dimana era demokrasi   telah terbuka lebar dan memberi peluang untuk kebebasan berpendapat dan mengeluarkan kritik.

Era tersebut langsung disikapi oleh penerbitan pers dengan melakukan penyesuaian gaya, corak dan pola pengumpulan, pengolahan, dan penyajian berita. Adanya kebebasan masyarakat menyatakan pendapat, penerbitan pers mulai menyajikan berita-berita yang mengandung pro dan kontra, kritik, dan fakta yang ada pada kekuasaan yang tidak sesuai dengan demokrasi, dan berbagai penyimpangan yang timbul di pemerintahan.

Kualitas kebebasan pers yang dapat diraih pada awal reformasi dan sepanjang masa pemerintahan Presiden Habibie, terus mengalami peningkatan pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid. Dengan :

1)    Memberikan kebebasan yang luas kepada  pengelola penerbitan pers dalam melaksanakan kegiatan profesinya.

2)    Meniadakan pengawasan dan campur tangan terhadap penyelenggaraan pers termasuk melalui pembubaran Departemen Penerangan yang pada masa orde baru menjadi institusi pengawas dan penindas pers.

3)    Mencabut Undang-Undang No. 21 tahun 1982 dan menggantikannya dengan Undang-undang No. 40 tahun 1999 yang tidak lagi mensyaratkan adanya SIUPP untuk penerbitan pers .

Kebijakan pemerintah tersebut mendapat tanggapan dan sambutan sangat positif dari praktisi pers dan masyarakat luas. Hal ini dibuktikan dari peningkatan jumlah penerbitan pers yang baru, serta mulai bergairahnya penerbitan pers dalam melaksanakan dan mengembangkan kegiatan penerbitan.

Namun demikian, adanya kebebasan pers ini belum secara langsung belum meningkatkan pelaksanaan fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, kontrol sosial, dan hiburan. Bahkan peningkatan kualitas penerbitan pers dan pertambahan jumlah penerbitan pers justru cenderung mendorong terjadinya penyajian informasi yang rancu dan membingungkan masyarakat.

          Banyak lahirnya pers-pers partisipan yang menyurakan dan corong kepentingan pihak tertentu dan sangat bernafsu untuk menghabisi lawan-lawan politiknya. Banyak pengamat mengatakan pemberitaan sejumlah media massa mengenai kerusuhan di tanah air selama ini sudah keluar dari proporsi dan justru cenderung mengobarkan semangat kebencian dan dendam antar kelompok, sehingga konflik malah meluas dan menyebar.

          Untuk meraih pembaca, banyak penerbitan pers yang menerapkan teknik penyajian judul berita yang sensasional, menggemparkan, dan bahkan menakutkan (scare headline ). Judul berita seperti itu hampir seluruhnya dibuat berdasarkan opini wartawan, sehingga cenderung evaluatif, subjektif, konklusif, dan tidak faktual. Berita yang disajikan sesudah headline, umumnya diperoleh dari satu sumber, sehingga terlihat singkat dan kurang lengkap. Minat baca masyarakat terhadap berita semacam ini, biasanya bersifat sesaat atau tidak bertahan lama, terkadang seringkali menimbulkan kekecewaan bagi para pembaca.

Tidak sedikit penerbitan pers yang secara khusus memuat berita-berita yang ditujukan untuk memenuhi selera rendah pembaca. Berita-berita yang termasuk dalam kelompok ini, pada umumnya menyangkut seks dan kejahatan, perselisihan dan keretakan rumah tangga, perceraian, perzinaan, pembunuhan, dan sebagainya yang disajikan secara vulgar, kasar dan berlebihan. Menurut banyak pakar komunikasi, berita-berita seperti itu tidak ada manpaatnya bagi pembaca, selain hanya memuaskan selera rendah pembaca.

Pers kita saat ini belum mengalami kemajuan yang berarti, kalau malah tidak disebut kemunduran, dibandingkan dengan peran pers sebelumnya. Masa transisi yang kita alami sekarang menjadikan sebagian besar pers menderita sejenis krisis identitas atau gegar budaya. Mereka tercerabut dari fondasi yang lama, namun kini belum memiliki fondasi baru yang kokoh tempat mereka berpijak. Tidak mengherankan jika era reformasi ini didefinisikan sebagai era kebebasan tanpa batas, sehingga banyak pers, terutama media baru yang muncul pada masa transisi ini, yang kebablasan dalam pemberitaan atau penyajian acara  mereka.

Pers seakan bermain di lapangan sendiri, yang terpisah dari pemerintah (khususnya lembaga eksekutif), dan masyarakat, kontras dengan peran mereka dulu sebagai—meminjam istilah Rakhmat (2002:9) pers adalah—carbon copy dari pemerintah. “Kalau dulu pers cenderung bak kambing yang dicocok hidungnya oleh pemerintah, kini pers tampaknya justru berprilaku “liar”. Pokoknya, mereka asal berbeda dengan pemerintah, kalau perlu beroposisi, tanpa menyadari bahwa kita semuanya saling membutuhkan, dan perlu saling mengingatkan, serta saling membantu untuk mencapai Indonesia yang kita cita-citakan, yang beradab dan makmur, yang mensejahterakan lahir bathin.

          Dampak yang paling menonjol dari munculnya berbagai persoalan akibat dibukanya berbagai kebebasan, termasuk munculnya efek dari kebebasan media massa. Ketika terjadi krisis sosial dan politik, media massalah yang menjadi motor  penyampai informasi kepada masyarakat. Karena media massa itu pula, semua drama politik saat itu menjadi telanjang dan terbuka kepada publik secara langsung.

Secara nyata, kebebasan pers ini telah menghadirkan dengan telanjang dan terbuka segala keruwetan dan kekacauan politik. Krisis dan konflik sosial politik menjadi lebih tajam dan semakin nampak dramatis melalui liputan pers. Publik bisa dengan leluasa membaca dan menyaksikan tingkah polah serta sumpah serapan para elit politik, baik yang ada diparlemen maupun yang ada di pemerintahan melalui pemberitaan pers. Pers sangat terkesan menjadi tidak terkendali setelah kontrol dari pemerintah lenyap, dan kebebasan pers berubah secara anarki. Perubahan yang paling nyata sejak orde baru runtuh adalah pers Indonesia yang semula terpenjara dalam pemberitaan satu nada (monotony ) menjadi liputan yang penuh hiruk pikuk (cachopony )

          Kedepan pers mahasiswa semestinya harus kembali menelaah karakteristik idealnya sebagai sebuah elite papers. Pakar jurnalistik dari Universitas Stanford, William L. Rivers, mengemukakan karakteristik ideal sebuah pers kampus sebagai berikut :

1.    Harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius (Must be approached as a serious work of journalism ).

2.    Harus berisikan kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya (It should report and explain newsworthly events in the life of the institution ).

3.    Harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasiswa (Provide medium for student expression ).

4.    Haruslah mampu menjadi pers yang diperlukan oleh komunitas kampusnya (It should make it self indispensable to the school community ).

5.    Tidak boleh menjadi alat klik atau permainan yang memuaskan kelompok kecil di kampus (It can’t be a clique operation a toy for the amusement of a small group ).

6.    Harus dapat memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi (Serve the purpose of mass communication )

Oleh karena itu adalah lebih baik jika di era reformasi ini pers mahasiswa banting stir untuk kembali melakukan proses penyadaran bagi insan kampus yang kini cenderung kembali pada budaya hedonis,individulis dan apatis. Label sebagai pers alternatif tetap akan dikantongi hanya saja sebutan itu lebih menyempit pangsanya karena diarahkan pada komunitas kampus. Back to campus bagi pers mahasiswa harus menjadi target sebab jika tidak segera dilakukan maka pers mahasiswa akan kehilangan eksistensinya yang disebabkan oleh kondisi saat ini yang tidak “kondusif” bagi pers mahasiswa yang ingin selalu tampil beda.

          Kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang dihadapi oleh pers mahasiswa sungguh sangat dahsyat jika saat ini ingin bersaing dengan pers umum. Pada analisa kekuatan, pers mahasiswa memilki kekuatan antara lain keberadaannya terlindungi oleh keberadaan almamater dan dalam penerbitan medianya.. Dari aspek analisa kelemahan, pers mahasiswa justru sangat lemah. Kemampuan dan keahlian SDM yang terkadang pasang surut dan lemahnya kaderisasi membuat pers mahasiswa kadang tidak konsisten terutama dalam hal waktu terbit. Persoalan dana, dari tahun ke tahun selalu menjadi persoalan klasik, maka diperlukan kemitraan dengan unsur yang memiliki komitmen dengan perkembangan pers mahasiswa dan kampus.

Kendati begitu pers mahasiswa tetap memilki peluang. Setidaknya pers mahasiswa memiliki pangsa pembaca yang potensial untuk dikembangkan yaitu civitas akademik. Suatu tantangan tersendiri bagi pengelola pers mahasiswa agar civitas akademik tersebut mau membaca sekaligus membeli terbitannya. Mengangkat isu lokal terutama yang trend di lingkungan mahasiswa dan civitas akademik nampaknya  menjadi daya tarik tersendiri untuk meraih pangsa pembaca. Sosialisasi untuk memulai gerakan membaca terbitan kampus sekaligus meniupkan isu tentang pentingnya minat baca harusnya bisa menarik simpati komunitas kampus.

          Back to campus bisa jadi menjadi pilihan alternatif bagi pers mahasiswa untuk kembali menginstropeksi diri, sejauhmana terbitannya memberikan kontribusi kepada masyarakat setidaknya komunitas kampus. Sehingga diharapkan pers mahasiswa kembali menjadi tuan rumah di kampus sendiri bukan menjadi tamu di kampusnya. Revitalisasi kualitas terbitan agar tampilan liputannya lebih menarik untuk dibaca merupakan salah satu hal yang bisa dilakukan untuk pers mahasiswa ke depan dengan tetap membawa misi dan visi yang diusung dalam sejarah panjang pers mahasiswa. Dengan tetap konsisten dengan idealisme dan membangun semangat pencerdasan bangsa dalam merespon tantangan yang ada dan mengatasinya. Wallohualam Bissawab.

 

 *Sumbang saran dalam acara : Latihan Dasar Jurnalistik MOMENTUM

   di Universitas Langlangbuana 15 Oktober 2010.

Mon, 16 Jan 2012 @22:01


1 Komentar
image

Fri, 8 Mar 2013 @01:15

Khusnul Aidil S

Suka dengan tulisan ini!


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+8+8

Saran & komentar
ALBUM

Copyright © 2017 ekibaihaki · All Rights Reserved