Pemimpin yang Cerdas Emosional dan Spiritual

image

 

 

Jadilah Pemimpin yang Cerdas Emosional  dan Spritual

 

Oleh : Eki Baihaki

                                    Dosen UNLA/Ka. Panwaslu Kota Cimahi

 

          Pertanyaan besar yang muncul berkaitan dengan pemilihan presiden tahap ke dua tersebut adalah : “Apakah perhelatan tersebut mampu menghasilkan presiden tidak hanya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan tetapi juga seorang pemimpin bangsa, yang kondisinya sebagaimana dilukiskan oleh Aa Gym sedang diijangkiti penyakit qolbu (hati). Bagaikan jangkrik-jangkrik yang sedang berkelahi. Berpukul-pukulan, saling menghujat, bahkan berbunuhan. Serta masyarakat yang sedang mengalami kelelahan batin dalam menjalani hidup ini.  Dan indikator kepemimpinan yang bagaimanakah yang harus dimiliki oleh presiden terpilih kelak agar dapat mengatasi keterpurukan bangsa.

          Dalam orasi ilmiah di Universitas Langlangbuana dalam rangka dies natalis  XXI, Prof. Dr. H.A. Djadja Saefullah, Drs.,M.A.,Ph.d berpendapat bahwa pemilihan presiden secara langsung akan dapat mengatasi keterpurukan bangsa Indonesia apabila presiden yang dipilih bukan hanya sebagai seorang kepala pemerintahan atau kepala negara tetapi adalah seorang pemimpin dari bangsa yang sangat heterogen ini. Sebagaimana dipahami dalam konsep-konsep teoritis, secara formal dan material kapasitas dan kualitas seorang pemimpin sangat berbeda dengan kualitas dan kapasitas seorang kepala.

Berbeda dengan “Kepala” yang dapat dibuat, diangkat atau diatur, maka “Pemimpin” adalah representasi dari orang yang dipimpinnya. Kepala negara atau kepala pemerintahan bisa dibuat dan diatur oleh pihak-pihak yang berkuasa dalam negara (pemimpin partai, pemilik modal, pemimpin militer, tokoh kharismatik dan pihak-pihak yang mampu mewarnai dan mendominasi jalannya negara ini). Lebih lanjut dalam pandangannya pemimpin harus merupakan representasi dari dari semua orang yang disebut rakyat atau warga negara dari negara yang bersangkutan. Sejarah menunjukan bahwa kemunculan seorang pemimpin bermula dari ketokohannya yang dapat diterima semua pihak. Dengan kata lain, seorang pemimpin bukan hanya muncul dari tengah-tengah orang yang dipimpinnya  tetapi juga harus dapat diterima oleh semua pihak.

Beberapa Indikator

              Dari banyak indikator seorang presiden yang memiliki kualifikasi seorang pemimpin, salah satu diantaranya adalah: Adakah kemampuannya dalam mengelola emosi dirinya dan emosi orang yang dipimpinnya atau dikenal dengan Emotional Intelligence (EQ) sehingga seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional dituntut mampu memahami emosi dirinya, emosi orang yang dipimpinnya serta mampu mengelola emosi-emosi tersebut dalam hubungan sosial untuk mewujudkan tujuan bersama. Kemampuan tersebut diperlukan dalam merespon kondisi bangsa yang bagai buih ombak di lautan, dan kondisi bangsa yang  mengalami kelelahan batin dalam menjalani hidup ini. Dan hanya pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi yang akan diterima dan memberi harapan kepada orang yang dipimpinnya.

Dalam skala mikro David Goleman, telah melakukan penelitian terhadap kondisi emosi karyawan kaitannya dengan laba perusahaan. Salah satu hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa “laba perusahaan berbanding lurus dengan kondisi emosi karyawannya” . Hal tersebut menunjukan kepada kita bahwa tugas utama pemimpin adalah pada kemampuannya secara cerdas mengelola emosi, karena setiap orang memiliki perasaan berbeda-beda dan dapat berubah setiap saat. Yang merupakan suatu hal yang sangat manusiawi. Selaku pemimpin mampukah kita untuk memerintahkan kepada karyawan kita untuk meninggalkan perasaannya yang tidak tentram di rumah ketika akan pergi bekerja, atau melepaskan berbagai perasaan yang tidak nyaman ketika dalam bekerja  ?

 Dalam pandangan lama seorang pemimpin yang terlalu banyak mempertimbangkan faktor-faktor perasaan bawahannya, ia dianggap sebagai pemimpin yang lemah, tetapi saat ini  hal tersebut sudah merupakan suatu kebutuhan. 

          Belajar dari penelitian tersebut, maka tugas utama presiden selaku pemimpin adalah mampukah mengelola perasaan  atau qolbu bangsa Indonesia yang sedang gelisah, emosional, putus harapan menjadi lebih baik dan  memiliki optimisme yang selanjutnya akan mewujudkan komitmen bersama untuk menggapai harapan, dengan tidak menjadikan orang yang dipimpinnya sebagai instrumen bagi kesuksesnya tugas kepmimpinannya.

             Seorang presiden yang sekaligus seorang pemimpin, semestinya memiliki kecerdasan emosional (EQ) tinggi untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi orang yang dipimpinnya. Dalam pandangan para ahli IQ dikatakan relatif tetap, maka EQ untungnya masih dapat untuk ditingkatkan. Sejak dahulu ada perdebatan abadi apakah seorang pemimpin dilahirkan atau dibentuk oleh waktu dan keadaan. Begitu juga dengan kecerdasan emosional, ada yang sudah dimiliki sejak ia lahir sehingga ia memiliki kepekaan memahami emosi dirinya dan emosi orang lain dengan baik, -ataukah hal tersebut merupakan akumulasi dari hasil gemblengan hidup dari mulai kecil hingga dewasa. Penelitian menunjukan bahwa ada komponen genetik yang dimiliki orang tertentu, memungkinkan sejak lahir memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Tetapi juga dengan pengalaman hidupnya, jika mau setiap orang dapat meningkatkan kecerdasan emosi mereka. Disamping waktu menjadikan seseorang menjadikan lebih matang dan bijaksana.

          Seorang pemimpin yang efektif adalah yang disamping memiliki kapabilitas, karakter dan integritas, juga memililiki ketulusan hati untuk memperhatikan rakyatnya. Seseorang yang mampu membuat rakyat merasa nyaman walaupun dalam keadaan sulit sekalipun. Ia mampu membangkitkan semangat  warganya  untuk bersama-sama bekerja keras sebagai wujud komitmen kebangsaannya. Untuk itu ia harus mampu menjadi panutan, pemimpin yang leading by examples menjadi sumber inspirasi dan menjadi seorang pemimpin yang mampu menciptakan resonansi pada orang yang dipimpinnya. 

Sejarah mencatat dalam revolusi fisik tahun 1945-1949, kondisi bangsa lIndonesia secara lahiriah dan batiniah saat itu lebih susah dibandingkan kondisi saat ini. Tetapi mengapa semangat hidup dan daya juang bangsa Indonesia begitu tinggi ? Dibandingkan kondisi saat ini meski secara lahiriah lebih baik, namun secara batiniah kondisinya cukup memprihatinkan --yang dibuktikan dengan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa dan maraknya kasus bunuh diri yang dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat dari anak-anak hingga orang dewasa, dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Karena beragam motif  –salah satunya adalah hilangnya akan harapan masa depan yang lebih baik.

Beragam jawaban, mengapa pada masa revolusi fisik lebih baik, salah satu jawabannya adalah karena saat itu rakyat dipimpin oleh pemimpin bangsa yang memiliki integritas tinggi dan berkarkter kuat, pemimpin yang beresonansi tinggi dan mampu menggugah emosi rakyat untuk bersatu dan berjuang mempertahankan kemerdekan Republik Indonesia. Pemimpin seperti  Soekarno, Hatta, Jenderal Sudirman, Agoes Salim, Hamengkubuwono IX dll. Adalah motivator-motivator yang memiliki kemampuan membangkitkan semangat kebersamaan. Dalam suka dan duka dan semangat kegotongroyongan yang sekarang mulai memudar, kalau tak ingin dikatakan menghilang.

          Presiden yang akan datang ada baiknya belajar dari Tony Fernandes , ahli akutansi tamatan Inggris. Pendiri dan CEO AirAsia, perusahaan penerbangan Malaysia yang dikenal dengan obsesinya “membuat setiap orang bisa terbang” . Tony Fernandes selaku pendiri dan CEO AirAsia  telah mampu menghidupkan kembali AirAsia milik pemerintah Malaysia yang diambang kebangkrutan dengan dua pesawat Boeing 737-300 dan hutang 11 juta dollar AS. Yang berhasil dibelinya dari pemerintah Malaysia, setelah terlebih dahulu meyakinkan  PM Malaysia saat itu Mahatir Muhamad , dengan iidenya “Penerbangan tarif murah  yang akan merevolusi perjalanan udara di Asia Tenggara dan mendorong turisme, hotel, restoran, dan semakin meningkatkan persatuan asia pada saat dunia penerbangan “mati suri” menyusul serangan teroris 11 September 2001. Ahirnya Mahatir pun setuju melepas dengan harga murah AirAsia kepada Tony Fernandes

          Yang selanjutnya terjadi adalah AirAsia kini memiliki 18 pesawat Boeing 737-300. Dan sudah enam juta diangkut dari dan ke Malaysia. Keuntungannya kini mencapai 16 Juta Dollar AS. “Semua orang kini bisa terbang dengan tarif murah namun kualitas tetap terjaga. “Pokoknya setiap orang bisa gembira dua kali lipat dengan tarif setengah harga” ujar Tony yang meraih CEO terbaik Malaysia tahun 2003.

          Kiat kesuksesannya terletak pada penekanan ektra ketat pada efisiensi meskipun tidak berarti kesejahteraan karyawan dikorbankan. Efisiensi misalnya pada tak adanya makanan dan minuman pada penerbangan yang kurang dari dua jam, efisiensi juga ditekankan pada pilot agar tidak tancap gas pada landas pacu yang panjang, yang bisa menghemat 20 persen bahan bakar. AirAsia juga memperbaiki dan memelihara sendiri pesawatnya sehingga bisa menekan biaya. PesawatAirAsia hanya sekitar 25 menit berada di landasan. Karena tariff murah maka 80 persen pesawat-pesawat AirAsia terisi penumpang.

          Pemahaman akan efisiensi penting dimiliki bagi presiden Indonesia, dalam kondisi Indonesia yang terbelit hutang hutang luar negri yang cukup besar dan skala prioritas anggaran pembangunan yang belum memihak bagi sebesar-besarnya kepentingan rakyat.  Kalau saja mampu melakukan efisiensi bagi anggaran yang bersifat pemborosan dan tidak terlampau penting, barangkali anggaran pendidikan yang seyogyanya menjadi beban pemerintah dapat dicukupi dan menjadikan setiap orang tua pelajar dan mahasiswa di Indonesia menjadi gembira. Efisiensi bagi peningkatan anggaran pendidikan yang memadai merupakan kunci bagi peningkatan kualitas bangsa untuk keluar dari keterpurukan. Dan presiden terpilih kelak adakah obsesinya membuat bangsa Indonesia dapat terbang, menggapai impian, not imposible dreams   seperti AirAsia.       

          Ahmad Syafii Maarif, dalam salah satu tulisannya di harian umum republika menyatakan bahwa musuh yang harus dienyahkan dari lingkungn publik adalah sikap hidup pemimpin yang serba Ndoro(tuan) atau feodal yang hingga saat ini masih bertahan. Sikap feodalisme yang bertentangan dengan sikap egalitarianisme menganggap bahwa harus ada sekat hirarkis dalam kehidupan sosial. Bahwa bawahan harus hormat pada atasan adalah hal yang lumrah sejak ribuan tahun yang lalu. Yang tidak sah dalam sistem demokrasi adalah jika atasan tidak mau mendengar suara bawahan, padahal suara itu boleh jadi mengandung kebenaran dan kejujuran.

          Secara teoritik, feodalisme sebagaimana yang dikenal di Eropa pada abad pertengahan adalah suatu system sosial dimana orang mendapatkan tanah dan perlindungan dari kaum bangsawan. Sebagai imbalannya mereka akan bekerja dan berjuang untuk kepentingan kaum bangsawan. Dalam sistem ini pekerja tidak diperlakukan sebagai manusia penuh. Wacana sosilologis kita dikaitkan dengan kepemimpinan nasional kita,  sulit menemukan presiden kita dari yang pertama sampai sekarang merasa aman dikelilingi oleh mereka yang tetap setia tetapi akan bersikap kritikal pada saat tertentu jika sikap itu diperlukan bagi kepentingan yang lebih besar.

          Presiden Indonesia sebaiknya memilih pembantu-pembantunya yang setia tetapi tetap kritikal, loyal but critical   bukan pembantu yang menyampaikan yang manis-manis saja, sementara yang pahit bagi penyelamatan bangsa dan negara disimpan dalam hati. Nasib presiden kita, yang terekam  dalam memori kolektif kita, betapa tragisnya pada ahir masa jabatannyaya (terutama dua yang pertama) dihujat bertahun tahun   Kekuasaanya digoyang kemudian kekuasaanya diruntuhkan dengan cara tidak jarang diluar koridor “kemanusiaan yang adil dan beradab” antara lain karena yang yang bersangkutan membiarkan dikelilingi oleh pengelilingnya yang mabuk kekuasaan dibawah payung dengan mengakomodasi nilai feodal dan semi feodal yang membunuh demokrasi.

Semoga Presiden terpilih kelak, Megawati atau Susilo Bambang Yudhoyono mau belajar dari pengalaman para pendahulunya agar tragedi getir tidak terulang kembali, ongkosnya terlalu mahal disamping terlalu getir untuk dikenang. Dan memiliki kecerdasan spritual, dengan memaknai amanah kepemimpinan yang diemban merupakan tugas ibadah yang akan dipertangungjawabkan kepada Allah Subhanahu Wata”ala, selain tanggung jawabnya kepada rakyat.    

           

 

Reference

1.    Hernowo, Aa Gym Fenomena dan Daarut Tauhid, Mizan, Bandung 2001

2.    Ginanjar, Ary, Spiritual Engineering, ESQ Leadership Center

3.    Gymnastyar, Abdullah, Refleksi membangun Nurani Bangsa, MQ Publishing, Bandung  2004

4.   Saefulloh, Djadja, Orasi Ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke XXI, Unla Bandung

 

 

 

 

Tue, 17 Jan 2012 @07:01


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+6+2

Saran & komentar
ALBUM

Copyright © 2017 ekibaihaki · All Rights Reserved